Dalam menjalani dunia entrepreneur banyak sekali hal yang saya alami
Ada yang sedih dan ada yang senang
Termasuk berbicara soal Ke-GAGALAN ini adalah hal yang paling sensitif dan sangat personal
Teman-teman saya biasa menyebut kegagalan dengan "belum berhasil" (padahal sama saja he..he...)
Beberapa bulan ini saya dihadapkan pada banyaknya kegagalan yang terjadi dalam bisnis saya
Bayangkan saja....
Dalam waktu 4 bulan saya sudah menjalani lebih dari 7 bisnis baru yang berakhir pada semakin sering saya mengalami kegagalan
Sungguh tidak mudah menghadapinya...
Sampai-sampai saya puasa melakukan semua hal baru dan lebih memilih untuk beristirahat saja dirumah dari pada modal semakin lama semakin menipis karena melakukan manuver yang tidak terkontro
Namun.... ungkapan dari pendiri IKEA ini sungguh menenangkan hati dan mental saya untuk segera berani Action dan memulai bergerak daripada tidak berbuat salah karena kita diam.
Ingvar Kampard berkata "Hanya orang yang tidur yang tidak berbuat salah" artinya berbuat salah itu wajar namanya juga kita melakukan hal baru.
Namun....jangan lupa koreksi diri dan terus bergerak maju
Karena orang lain juga terus bergerak maju, jadi kita jangan diam saja menunggu belas kasihan orang lain
Jangan lupa "Tangan diatas lebih baik daripada tangan diatas"
Kalau kita berhenti kita tidak akan bisa lagi berbuat untuk banyak orang
Tidak bisa lagi beramal seperti yang seharusnya kita lakukan
Intinya...
Kini saya siap untuk bergerak
Siap untuk maju lagi
Jadi tunggu saya teman-teman
"Ayo kita saling menyalip ditikungan lagi"
Salam Menyalip ala STONER,
Fatchur Rozi
http://imucu.com
http://fatchur-rozi.blogspot.com
Friday, October 14, 2011
Thursday, October 13, 2011
Business Circle
Business Circle
Dalam sesi sebelumnya ada mahasiswa yang bertanya mengenai bagaimana mengatasi masalah dalam berbisnis.
Lalu saya teringat dengan rumus diatas
Maksudnya kurang lebih seperti ini...
Dalam berbisnis atau memulai usaha yang penting kita Action terlebih dahulu
Tidak usah banyak berpikir, karena kalau sudah terlalu banyak berpikir yang ada biasanya adalah tidak jadi memulai usaha karena takut
Setelah kita Action tentu akan timbul Masalah/Problem dalam bisnis tersebut
Mungkin tidak laku atau mungkin hal lainnya..
Naah...disinilah waktunya kita melakukan Evaluasi terhadap apa yang sudah kita lakukan
Kalau kurang promosi, berarti kita mulai pikirkan cara berpromosi yang tepat
Atau banyak masukan dari pelanggan yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya oleh kita
Namun yang pasti, Evaluasi baru bisa dilakukan apabila Action sudah dilakukan
Berikutnya yang terakhir yakni Solusi
Apabila sudah melakukan evaluasi tentu kita akan menemukan solusi yang harus segera diimplementasikan
Karena rumus ini bentuknya bulat
Jadi, setelah ditemukan solusi tentu kita akan kembali ke proses awal yakni Action Setelah Action tentu akan timbul lagi masalah/problem
Lalu kita akan Evaluasi lagi dan akan ketemu solusi begitu seterusnya
Saya rasa rumus ini cocok sekali dengan dunia usaha
Karena kita para pengusaha memang tidak boleh berhenti berinovasi
Dan terus bergerak sesuai dengan dinamika bisnis yang kita tekuni
Oke, saya rasa cukup sharing kali ini....
Saya harus segera mengisi sesi seminar berikutnya
Salam Hangat,
Fatchur Rozi
http://fatchur-rozi.blogspot.com
Friday, September 23, 2011
The Beautiful MAGIC world
Bersama Pak Indro Julian Sang Empu Sulap Indonesia
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan yang sangat langka & istimewa
Akhirnya saya mendapat kesempatan untuk belajar ilmu sulap langsung dari guru besar sulap Indonesia Pak Indro Julian
Sekedar Info, Pak Julian (panggilan akrab beliau) Juga guru sulap dari beberapa pesulap besar negeri ini seperti Uya Kuya dan Demian
Berarti saya adik kelas Uya & Demian dooong he..he..he..
Belajar ilmu sulap adalah impian saya semenjak kecil dan kini sudah kesampaian.
Tidak terhitung sudah berapa banyak orang yang terpukau dengan teknik sulap yang saya peragakan.
Meskipun teknik tersebut adalah teknik sederhana seperti membengkokkan sendok, merubah daun menjadi uang, menghilangkan koin, memperbanyak uang, Koin tembus dari mata ke belakang kepala, menyetir mobil sambil ditutup mata dll
Saya lebih tertarik dengan sulap yang tidak memerlukan peralatan khusus karena bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.
Kini, dunia sulap bukan lagi sesuatu yang tidak bisa dijangkau
Siapapun bisa belajar, karena kini sulap banyak diajarkan di Mal-mal
Anak saya si Aiko 5th, senang sekali mempertunjukkan sulap yang saya ajarkan kepada teman-temannya.
Rupanya sulap juga baik buat menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak
Jadi....
Apakah anda juga suka belajar sulap seperti saya?
MAGIC made the world more beatutiful
Salam Hangat,
Fatchur Rozi
http://fatchur-rozi.blogspot.com
Friday, August 26, 2011
Obrolan Katrok Anak Muda
Kemaren terkesan dengan obrolan sahabat saya yang satu ini.
Denni Delyandri pemilik kerajaan bisnis oleh-oleh khas Batam dan memiliki prestasi segudang ini.
Ditengah kelakar yang kita bincangkan, ternyata ada celetukan yang cukup serius mengenai semangat yang dimilikinya.
Kunci dari kesuksesan saya cuma satu
Bisnis ala semut
Nah lho...tambah bingung aja khan..????
Artinya kalau kita mentok, cepet belok action lagi
Kepentok lagi belok lagi dst...
Sampai akhirnya ketemu dengan bisnis atau cara yg cocok dengan kita
tentu saja cocok dengan uang yang diperoleh hahahahah
Ternyata tipis sekali jarak antara orang sukses dengan yang putus asa
Wallahua'lambisshawab
Fatchur Rozi
Monday, August 15, 2011
School, Homeschool, dan Flexi-school
Berbeda dengan kebiasaan di Amerika Serikat yang lebih populer dengan sebutan homeschooling, para praktisi pendidikan rumah di Inggris lebih menyukai sebutan "home education" atau kalau diterjemahkan adalahpendidikanrumah. Sebab, education maknanya lebih luas dan daripadaschooling yang merupakan satu bentuk pendidikan yang tersruktur.
Di luar sekolah (schooling) dan pendidikanrumah (home-ed), di Inggris mengenal model lain yaitu flexi-schooling. Ada lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pendidikan beberapa hari dalam seminggu (2-3 hari) atau term, ke sekolah. Sisanya, siswa belajar sendiri di luar lembaga tersebut.
Nah, lembaga yang menyediakan layanan pendidikan 3 hari dalam seminggu itu tidak disebut home education atau homeschooling. Tetapi lembaga itu masuk kategori flexi schooling, alias sekolah fleksibel. Posisi flexi
schooling berada di antara homeschooling/home education dan schooling.
***
Aku ingin menjadikan tulisan mengenai praktek pendidikan di Inggris itu sebagai refleksi tentang penggunaan istilah homeschooling di Indonesia.
Di belahan dunia manapun, baik di Amerika, Inggris, Australia, Philipina, dll; yang disebut homeschooling atau home education adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga. Kalau pendidikan diselenggarakan oleh sebuah lembaga tertentu, maka sebutannya PASTI bukan disebut homeschooling atau home education. Sebutan untuk lembaga pendidikan itu bisa bermacam-macam: school, academy, dsb.
Nah, di Indonesia ini banyak sekali lembaga-lembaga yang menyebutkan diri sebagai homeschooling. "Homeschooling ABC" atau "XYZ Homeschooling". Penyebutan lembaga-lembaga dengan sebutan homeschooling itu menimbulkan kerancuan dan tidak sehat dalam proses edukasi masyarakat.
Masyarakat mendapatkan informasi yang salah tentang homeschooling. Akibatnya, pertanyaan-pertanyaan tentang homeschooling pun menjadi aneh: berapa biaya masuk homeschooling, adakah lokasi homeschooling di dekat rumah saya, bagaimana mendapatkan franchise homeschooling, bagaimana cara mendirikan homeschooling, dsb?
Beberapa praktisi dan pemerhati homeschooling sudah berulang kali mengingatkan bahwa sebutan homeschooling itu untuk keluarga, bukan lembaga. Tetapi, suara itu kalah gempita dibandingkan promosi "homeschooling ABC" yang dilakukan oleh lembaga-lembaga bisnis yang menggelontorkan banyak dana untuk mendapatkan siswa.
***
Melalui posting ini, aku ingin menuliskan sekali lagi tentang penggunaan istilah homeschooling ini, sebelum kondisinya semakin parah dan Indonesia menjadi bahan cemoohan di dunia internasional akibat nafsu bisnis yang disalurkan dengan cara yang tidak sehat ini.
Mengulang prolog posting ini, diantara sekolah (schooling) dan sekolahrumah (homeschooling) itu sebenarnya ada satu kategori yang disebut flexi-schooling. Nah, lembaga-lembaga di Indonesia yang menyebutkan diri sebagai "homeschooling ABC" atau "XYZ Homeschooling" itu sebenarnya masuk dalam kategori "flexi-school".
Dia disebut school (sekolah) karena dia adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan serupa dengan sekolah formal. Dia dibedakan dengan sekolah yang biasa karena pendekatannya berbeda: masuk 2-3 hari/minggu, menggunakan pendekatan yg berbeda, dsb. Tetapi dia bukan homeschooling.
Apa yang salah dengan sebutan flexi-school?
Mengapa tetap ingin menggunakan sebutan homeschooling untuk nama lemabaga? Bukankah flexi-school adalah sebuah inovasi pendidikan yang keren juga? Bukankah ada banyak kelompok masyarakat yang membutuhkan pendidikan dengan model flexi-school? Mereka tak cocok dengan sekolah, tetapi mereka juga tak sanggup menyelenggarakan sendiri pendidikan di rumah (homeschooling/home ed).
Bukankah keren juga kalau sebutannya adalah "PKBM ABC", "Lembaga Pendidikan CDE", "Sekolah Fleksi XYZ" atau sebutan-sebutan lain yang intinya adalah menyelenggarakan pendidikan yang fleksibel?
Mengenai sebutan itu, ada sebagian lembaga yang berdalih bahwa mereka adalah Komunitas Homeschooling. Sebutan komunitas ini juga perlu dilihat dengan cemat. Praktek yang umum di dunia internasional, yang disebut komunitas itu adalah kumpulan dari para anggota yang melakukan kegiatan bersama; model pengelolaan dan pembiayaannya bersifat kolektif.
Komunitas bukanlah lembaga yang dimiliki satu orang, apalagi lembaga yang tujuannya untuk mencari keuntungan bisnis.
***
Sekali lagi, mari kita tempatkan istilah-istilah itu pada tempatnya yang tepat. Sekolah adalah sekolah, dia masuk dalam jalur pendidikan formal. Sekolah fleksi adalah lembaga pendidikan non-formal. Sekolahrumah atau pendidikanrumah adalah pendidikan keluarga yang berada dalam pendidikan informal.
Dengan mulai menempatkan hal-hal pada tempatnya yang tepat, semoga kita menjadi bagian dari solusi untuk mengedukasi masyarakat, bukan bagian dari pembuat masalah.
Di luar sekolah (schooling) dan pendidikanrumah (home-ed), di Inggris mengenal model lain yaitu flexi-schooling. Ada lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pendidikan beberapa hari dalam seminggu (2-3 hari) atau term, ke sekolah. Sisanya, siswa belajar sendiri di luar lembaga tersebut.
Nah, lembaga yang menyediakan layanan pendidikan 3 hari dalam seminggu itu tidak disebut home education atau homeschooling. Tetapi lembaga itu masuk kategori flexi schooling, alias sekolah fleksibel. Posisi flexi
schooling berada di antara homeschooling/home education dan schooling.
***
Aku ingin menjadikan tulisan mengenai praktek pendidikan di Inggris itu sebagai refleksi tentang penggunaan istilah homeschooling di Indonesia.
Di belahan dunia manapun, baik di Amerika, Inggris, Australia, Philipina, dll; yang disebut homeschooling atau home education adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga. Kalau pendidikan diselenggarakan oleh sebuah lembaga tertentu, maka sebutannya PASTI bukan disebut homeschooling atau home education. Sebutan untuk lembaga pendidikan itu bisa bermacam-macam: school, academy, dsb.
Nah, di Indonesia ini banyak sekali lembaga-lembaga yang menyebutkan diri sebagai homeschooling. "Homeschooling ABC" atau "XYZ Homeschooling". Penyebutan lembaga-lembaga dengan sebutan homeschooling itu menimbulkan kerancuan dan tidak sehat dalam proses edukasi masyarakat.
Masyarakat mendapatkan informasi yang salah tentang homeschooling. Akibatnya, pertanyaan-pertanyaan tentang homeschooling pun menjadi aneh: berapa biaya masuk homeschooling, adakah lokasi homeschooling di dekat rumah saya, bagaimana mendapatkan franchise homeschooling, bagaimana cara mendirikan homeschooling, dsb?
Beberapa praktisi dan pemerhati homeschooling sudah berulang kali mengingatkan bahwa sebutan homeschooling itu untuk keluarga, bukan lembaga. Tetapi, suara itu kalah gempita dibandingkan promosi "homeschooling ABC" yang dilakukan oleh lembaga-lembaga bisnis yang menggelontorkan banyak dana untuk mendapatkan siswa.
***
Melalui posting ini, aku ingin menuliskan sekali lagi tentang penggunaan istilah homeschooling ini, sebelum kondisinya semakin parah dan Indonesia menjadi bahan cemoohan di dunia internasional akibat nafsu bisnis yang disalurkan dengan cara yang tidak sehat ini.
Mengulang prolog posting ini, diantara sekolah (schooling) dan sekolahrumah (homeschooling) itu sebenarnya ada satu kategori yang disebut flexi-schooling. Nah, lembaga-lembaga di Indonesia yang menyebutkan diri sebagai "homeschooling ABC" atau "XYZ Homeschooling" itu sebenarnya masuk dalam kategori "flexi-school".
Dia disebut school (sekolah) karena dia adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan serupa dengan sekolah formal. Dia dibedakan dengan sekolah yang biasa karena pendekatannya berbeda: masuk 2-3 hari/minggu, menggunakan pendekatan yg berbeda, dsb. Tetapi dia bukan homeschooling.
Apa yang salah dengan sebutan flexi-school?
Mengapa tetap ingin menggunakan sebutan homeschooling untuk nama lemabaga? Bukankah flexi-school adalah sebuah inovasi pendidikan yang keren juga? Bukankah ada banyak kelompok masyarakat yang membutuhkan pendidikan dengan model flexi-school? Mereka tak cocok dengan sekolah, tetapi mereka juga tak sanggup menyelenggarakan sendiri pendidikan di rumah (homeschooling/home ed).
Bukankah keren juga kalau sebutannya adalah "PKBM ABC", "Lembaga Pendidikan CDE", "Sekolah Fleksi XYZ" atau sebutan-sebutan lain yang intinya adalah menyelenggarakan pendidikan yang fleksibel?
Mengenai sebutan itu, ada sebagian lembaga yang berdalih bahwa mereka adalah Komunitas Homeschooling. Sebutan komunitas ini juga perlu dilihat dengan cemat. Praktek yang umum di dunia internasional, yang disebut komunitas itu adalah kumpulan dari para anggota yang melakukan kegiatan bersama; model pengelolaan dan pembiayaannya bersifat kolektif.
Komunitas bukanlah lembaga yang dimiliki satu orang, apalagi lembaga yang tujuannya untuk mencari keuntungan bisnis.
***
Sekali lagi, mari kita tempatkan istilah-istilah itu pada tempatnya yang tepat. Sekolah adalah sekolah, dia masuk dalam jalur pendidikan formal. Sekolah fleksi adalah lembaga pendidikan non-formal. Sekolahrumah atau pendidikanrumah adalah pendidikan keluarga yang berada dalam pendidikan informal.
Dengan mulai menempatkan hal-hal pada tempatnya yang tepat, semoga kita menjadi bagian dari solusi untuk mengedukasi masyarakat, bukan bagian dari pembuat masalah.
Sumber:
http://rumahinspirasi.com/homeschooling/school-homeschool-flexi-school/
Monday, August 8, 2011
Cangkir Rejeki
Dalam beberapa bulan ini saya menerjuni begitu banyak bisnis baru
Mulai dari yang hasilnya besar sampai dengan yang membuat tekor
Mulai dari bisnis kuliner, jualan mainan sampai belajar sulap sudah dijalani
Namun yang menarik adalah....
Dari setiap bisnis dan ilmu baru yang saya pelajari ini
Saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ....
"Apapun bisnisnya, yang penting hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan"
Apabila kita cukup puas dengan bisnis dengan hasil yang cukup untuk hidup selama 1 hari
Berarti kita sudah cocok dengan bisnis ini
Namun
Bila kita menginginkan lebih ...
Coba pelajari lebih detail berapa sebenarnya keuntungan dari bisnis yang kita jalani saat ini
Bila kurang sesuai, coba ditingkatkan
Apabila belum bisa, maka bertanyalah kepada orang yang lebih tahu mengenai hal tersebut
Karena pada dasarnya bisnis itu adalah cermin dari diri kita
Apabila kita memiliki wadah sebesar cangkir
Maka rejeki kita juga hanya sebesar cangkir
Namun bila kita memiliki wadah sebesar lapangan bola (tapi bukan futsal ya....)
Maka rejeki yang akan kita dapat niscaya akan sebesar lapangan bola
Dan begitu seterusnya....
Naaah.....
Sekarang tugas kita bersama untuk melakukan perhitungan ulang mengenai diri serta bisnis kita
Sudah benarkah dengan mimpi kita?
Kalau masih kurang tepat, coba setting ulang atau kalau perlu di reset ulang (kalau istilah komputer)
Kalau ingin menjadi pedagang
Apakah kelas kita PKL, toko kelontong, minimarket, supermarket atau hypermarket
It's up to you
Salam FUNTASTIK,
Fatchur Rozi
http://imucu.com
http://fatchur-rozi.blogspot.com
Ayo Bangkit para Laskar Saudagar Muda
Hari ini terasa sangat menarik ketika saya mengajar di SMK Karya Mandiri Bekasi, dimana para murid di SMK ini memang dididik untuk menjadi seorang entrepreneur yang tangguh dan mandiri.
Saya adalah salahsatu mentor bisnis bagi anak-anak yang luar biasa ini. Ijinkan saya menyebut mereka dengan sebutan "Laskar Saudagar Muda"
Mereka ini adalah murid-murid yang sungguh beruntung, karena sudah diperkenalkan tentang dunia entrepreneur sejak usia dini.
Berbeda sekali dengan jaman saya yang baru mengenal dunia entrepreneur setelah bekerja lebih dari 2 tahun lamanya. Dan itupun baru berani resign dan mandiri setelah bekerja lebih dari 5 tahun.
Target paling dekat bagi mereka yakni bisa membayar SPP tanpa minta uang kepada orang tua
Dan berikutnya mereka harus sudah punya uang sendiri dan bisa mandiri serta dapat membantu orangtuanya
Mereka kami bagi menjadi kelompok-kelompok kecil beranggotakan 7 orang s/d 9 orang per group, konsep ini merujuk pada bentuk mastermind pada komuniats tangan diatas
Tugasnya hanya satu, mencetak profit
Dan alhamdulillah, ada diantara mereka yang berjualan kerupuk bawang, es buah, es juice, gorengan, es kelapa dkk (dan konco-konconya he..he...)
Namun ada juga yang mahir mendesain baju, beternak unggas, membuat kandang jangkrik dan masih banyak lagi
Ada yang bercerita mengenai pelanggan yang menawar harga produk mereka terlalu rendah
Ada juga yang membayar dengan memberi lebih dari harga yang mereka tawarkan (ini yang membuat untung bertambah)
Ada yang tidak ambil untung
Ada pula yang sudah jago bernegosiasi dengan memberi potongan harga untuk pembelian dalam jumlah tertentu
Hari ini mereka sudah kami bekali dengan senjata baru yang lebih efektif dan efisien untuk kembali berdagang
Sepertinya mereka akan membuat profit lebih besar minggu ini
Oke selamat berjuang "Laskar Saudagar mudaku"
Berdagang dengan JUJUR dan akhlak mulia
Berdagang dengan JUJUR dan akhlak mulia
Kami akan selalu mendukungmu
Salam FUNTASTIK,
Fatchur Rozi
www.imucu.com
http://fatchur-rozi.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)